Latest News

Translate

Berapa usia yang tepat untuk menyekolahkan anak?


Selain itu, pola pikir anak usia dini belum dalam tahapan menginginkan sekolah. “Mungkin anak-anak usia dini akan berkata, ‘Ma, aku ingin sekolah’, tapi sebenarnya mereka hanya sekadar mengatakan dan belum memahami apa itu sekolah.



Para orang tua biasanya berharap bisa menyekolahkan anaknya sedini mungkin untuk mempercepat proses perkembangan kognitifnya. Karena itu, tak jarang kita menemukan anak-anak usia dini (3-5 tahun) yang sudah cukup mahir membaca dan berhitung. Namun, usia berapa sebaiknya anak-anak kita siap untuk disekolahkan?

Usia bukanlah faktor utama dalam memutuskan untuk menyekolahkan anak di usia dini. Sebab, usia 3-5 tahun merupakan masa bermain anak, di mana mereka sebenarnya berada dalam tahap perkembangan psikomotorik kasar yang melatih keseimbangan, konsentrasi, serta koordinasi tubuhnya.

Tidak ada ciri-ciri yang pasti untuk melihat bahwa anak kita sudah perlu untuk disekolahkan. Bukan tergantung usia anak, tapi tergantung kita sebagai orang tua ingin mempersiapkan anak kita seperti apa.
Bisa jadi ayah dan bunda menyekolahkan anak di usia dini karena ingin melatih kedisiplinannya untuk bangun pagi atau melatihnya bersosialisasi dengan teman sebaya, sebelum ia cukup usia untuk masuk TK.
Orang tua juga perlu melihat kondisi anak, apakah si anak siap untuk masuk sekolah atau tidak. Orang tua tidak perlu terlalu memaksakan keinginannya kepada anak.Ingat ya bunda, anak kita punya dunia sendiri yang tidak sama dengan dunia orang tuanya.

Setiap anak memiliki proses yang berbeda dalam mengembangkan kemampuan kognitif, psikomotorik, maupun emosionalnya. Oleh karena itu, anak usia dini (3-5 tahun) yang belum siap untuk menerima materi baru, baik membaca, berhitung, maupun aturan kedisiplinan, tidak perlu dipaksakan sekolah.
Menurutnya, setiap anak memiliki tahapan-tahapan yang berbeda sebelum ia akhirnya siap untuk menerima materi yang akan mengembangkan kemampuan kognitifnya, untuk selanjutnya mempengaruhi pola pikirnya.
Anak yang belum siap untuk sekolah, biasanya terlihat dari perilakunya yang belum sesuai dengan apa yang diharapkan sekolah. Misalnya, malas untuk bangun pagi atau justru marah-marah ketika dibangunkan.
Untuk itu, daripada berkeras memaksakan anak untuk sekolah di usianya yang masih dalam tahap bermain, lebih baik orang tua rutin memberikan latihan yang akan mengembangkan konsentrasinya sembari menunggu usia anak siap untuk disekolahkan.

Tapi bunda harus rutin melatih konsentrasi si anak secara perlahan, bukannya acuh dan membiarkan anak terus bermain hingga memasuki usia sekolahnya. Sebab, hal itu justru menghambat pengembangan kognitifnya.

Resep Minuman     Resep Sayuran    Aneka Sambal